Minggu, 26 Agustus 2012

bahaya pembunuhan

Hampir tiap hari ditemukan mayat di mana-mana. Baik di pusat kota, maupun di kampung dan desa. Korban pembunuhan. Ada yang masih utuh, ada yang dimutilasi secara. Persoalan yang menjadi alasan untuk membunuhpun, kadang- kadang sangat sepele. Hanya karena memperebutkan uang recehan, senda-gurau yang berbuntut pertengkaran, dan sejenisnya.   Luapan amarah yan timbul akibat hal-hal kecil tersebut, membuat kenekadan untuk menimbulkan pembunuhan.
Mengapa pembunuhan begitu mudah dan sering terjadi akhir-akhir ini ?. Mungkin banyak faktor penyebab yang berkiatan dengan kondisi kejiwaan dan lingkungan yang membuat banyak orang menjadi pembunuh , dan banyak orang pula menjadi korban pembunuhan. Namun, jika setiap orang menyadari bahaya pembunuhan, baik dari aspek hukum formal (pidana), maupun hukum agama, tentu akan berpikir berkali-kali sebelum sampai pada tindakan membunuh.
Agama Islam melarang keras pembunuhan. Membunuh orang lain, merupakan perbuatan dosa besar (kabair). Allah SWT mengutuk dan mengazab setiap orang yang sengaja menghilangkan nyawa orang lain dengan sengaja (Q.s.an Nisa : 93). Melipatgandakan azab terhadap pembunuh dan mengekalkannya pada Hari Kiamat (Q.s.al Furqan : 68-69).
Nabi Muhammad Saw menyatakan, perbuatan membunuh merupakan satu di antara tujuh dosa besar yang harus dihindarkan. Dalam pandangan Allah SWT, membunuh seseorang (Mukmin), lebih hebat daripada lenyapnya dunia (Hadits riwayat Nasa-i). Sedangkan orang yang terlibat dalam pembunuhan, walaupun bukan pelakunya, dianggap orang yang putus asa dari rahmat Allah (Hadits riwayat Ahmad). Dosa membunuh orang (Mukmin) dengan sengaja, termasuk dosa yang tidak diampuni. Setara dengan orang yang mati dalam keadaan kafir (Hadits riwayat Nasa-i).
Walaupun mungkin harus dikaji secara lebih detail berdasarkan sosiologi, kriminologi, psikologi dan ilmu-ilmu “duniawi” lain, beberapa keterangan dalam agama Islam, tentang maraknya pembunuhan, perlu dicermati. Misalnya, sebuah ucapan (hadits) Nabi Muhammad Saw, riwayat Imam Bukhari, mengenai mendekat atau menyempitnya zaman, baik waktu maupun  lokasi (globalisasi), yang disebut “yataqarabuzzaman” akan membuat berkurangnya amal kebajikan (yanqusul amal), merajalelanya kekikiran (yulqas suhhu) dan merebaknya pembunuhan (yaktsurul haraju).
Pengaruh globalisasi, akibat kemajuan komunikasi dan tranformasi, memang luar biasa. Manusia serasa dikejar-kejar bayangan tak jelas. Jarak dari suatu tempat ke tempat lain semakin sempit. Hubungan antara kota-kota besar di dunia, hanya memerlukan dua tiga jam, atau paling lama 20 jam untuk menjangkaunya. Waktu semakin cepat bergulir. Hari Minggu baru serasa kemarin, sekarang sudah Sabtu lagi. Agenda kerja dan kebutuhan-kebutuhan pekan lalu belum terselesaikan, yang baru sudah menumpuk lagi. Manusia diburu waktu, dikejar-kejar tempat.
Sehingga tak ada kesempatan menebar kebajikan kepada sesama manusia. Malah berbagai keburukan, datang menggunung. Tak teratasi, karena semua memerlukan kalkulasi-kalkulasi di tengah waktu dan tempat yang amat menghimpit. Maka menggumpallah naluri psikopat. Hasrat memusnahkan kawan atau lawan yang dianggap merintangi segala rencana di tengah tekanan berbagai masalah eksternal.
Sebuah hadits lain riwayat Imam Ibnu Abid Dunya dan Imam Thabarani menyatakan, bahwa manusia akan terkena penyakit semua umat (ad daul umam). Yaitu penyakit kufur nikmat (al asyir). Menyelewengkan nikmat yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Jika penyakit awal tersebut sudah menimpa, akan muncul penyakit-penyakit susulan, berupa perbuatan seenak perut (al bathar), padahal manusia telah diberi akal, pikiran, dan perasaan untuk hidup dalam keteraturan berdasarkan norma etika dan hukum. Disusul lagi penyakit materialistik (at takatsur). Menumpuk-numpuk harta dengan cara apa saja. Setelah itu datang nafsu persaingan tidak sehat di segala bidang kehidupan (at tanafus). Semua itu mengundang keretakan satu sama lain. Hilang solidaritas, muncul saling iri saling benci (at tabaghud), yang selanjutnya meningkat menjadi dengki mendengki, hianat mengkhianati (at tahasud).  Berujung pada sikap dan watak lacut, dzalim, peras memeras, jerumus menjerumuskan (al baghyu). Dan puncaknya adalah saling bunuh antara sesama (al haraju), baik dalam skala kecil, maupun skala besar.
Padahal manusia seharusnya bersyukur atas nikmat kehidupan tiap pribadi yang diberi kelengkapan hawa nafsu namun di bawah kendali akal dan pikiran, serta mendapat petunjuk tentang halal atau haram, salah atau benar, haq atau batil. Manusia diberi peluang besar untuk memberdayakan akal pikirannya, sehingga mampu memelihara hidup dan kehidupan di dunia dengan aman, damai, tenteram, sejahtera. Diberi kemampuan untuk menyelesaikan segala persoalan kecil atau besar dengan cara yang baik dan benar, sesuai dengan norma etika yang berlaku.
Tapi karena terkena virus kufur nikmat, maka Allah SWT mencabut nikmat kebaikan dan kebajikan pada diri manusia. Sehingga menjadi mirip hewan karena lebih mengutamakan naluri hawa nafsu daripada naluri akal pikiran.
Pembunuhan demi pembunuhan akan terus berlangsung, terjadi setiap hari di sekeliling kita selama manusia terus menerus bersikap kufur nikmat. Wallahu ‘alam.***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar